Rabu, 27 April 2011

FKUI adalah salah satu lembaga pendidikan kedokteran terkemuka yang menjadi acuan nasional dan hingga saat ini masih menjadi pilihan bagi calon mahasiswa dari seluruh Indonesia. Dengan dibukanya berbagai jalur masuk ke UI, (antara lain, melalui SNMPTN Ujian Tulis dan Jalur Undangan), maka mahasiswa yang menjalani pendidikan Sarjana S1 Reguler di FKUI - pun berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dengan latar belakang sosial ekonomi yang beragam. Sejalan dengan itu, timbul permasalahan dalam Biaya Pendidikan di FKUI dan biaya hidup di Jakarta yang menjadi kendala dan hambatan bagi para calon mahasiswa, sehingga calon mahasiwa berkecil hati dan pesimis, merasa tidak mampu menjalani pendidikan di FKUI.
Mengecap pendidikan, termasuk pendidikan tinggi adalah hak setiap warga negara Indonesia. Oleh sebab itu, disusunlah suatu program yang bernama Beasiswa Paripurna untuk Bangsa (BPuB), untuk memperluas akses mahasiswa berpotensi secara akademik, namun berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi. Program ini tidak hanya membantu Biaya Pendidikan, tetapi juga biaya hidup dan bantuan fasilitas penunjang akademik. Dengan diadakannya program ini diharapkan dapat dihasilkan lulusan yang berkualitas, yaitu dokter-dokter yang cakap, mempunyai kepedulian sosial yang tinggi, menjunjung tinggi nama almamater, dan berbakti untuk nusa dan bangsa.

Calon Penerima Beasiswa

Persyaratan:
(SELEKSI tahap I)
Hal-hal yang harus disiapkan oleh calon penerima beasiswa antara lain:
1.Sudah diterima sebagai mahasiswa S1 Reguler FKUI 2011
2.Surat pengajuan permohonan Beasiswa Paripurna Untuk Bangsa yang ditujukan kepada Dekan FKUI*
3.Portofolio kegiatan ekstrakurikuler selama di SMA
4.Fotokopi laporan akademik (raport) SMA
5.Esai bertemakan “Bila Saya mendapat Beasiswa Paripurna untuk Bangsa”. 1500 – 2000 kata *
*ditulis tangan , dalam folio bergaris
Berkas dikirimkan melalui email ke hpeq.fkui@gmail.com dan pos yang ditujukan kepada:
Panitia Seleksi BPuB 
Bagian Kemahasiswaan 
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jln. Salemba Raya No. 6 
Jakarta 10430
Tenggat waktu pengiriman email dan berkas adalah 3 (tiga) minggu cap pos setelah pengumuman penerimaan mahasiswa UI (SNMPTN Undangan: 1 Juni 2011; SNMPTN Ujian Tulis: 14 Juli 2011).
Kriteria penerima beasiswa antara lain :
1.Dari hasil seleksi tahap I, tim evaluasi akan memilih mahasiswa yang ulet, jujur, dan memiliki riwayat pendidikan yang baik dan dianggap membutuhkan beasiswa ini untuk mengikuti seleksi selanjutnya yaitu psikotes dan wawancara oleh tim seleksi.
2.Mengajukan Penyesuaian Biaya Pendidikan melalui proses BOP-Berkeadilan dan Beasiswa Uang Pangkal
3.Setelah dinyatakan LULUS ujian psikotes dan wawancara dan berhak menerima beasiswa, mahasiwa HARUS menandatangani PERJANJIAN BERSEDIA TIDAK MENIKAH selama menerima beasiswa dan bersedia menjalani segala konsekuensinya
Penerima beasiswa harus memenuhi kewajibannya, yaitu
1.Mempertahankan prestasi akademik dengan IPK minimal 2,75.
2.Harus ikut aktif minimal satu kegiatan ekstrakurikuler
3.Senantiasa berkomunikasi dengan pembimbing akademik (PA), minimal satu bulan sekali.
4.Membuat catatan dan bukti penggunaan dana beasiswa yang dilaporkan kepada PA secara periodik satu bulan sekali, sebelum tanggal 10.
5.Selalu bersikap sopan dan menjunjung tinggi etika, tidak melanggar tata tertib kehidupan kampus, dan tidak terlibat dalam tindak pidana apapun.
6.Menyimpan dana beasiswa dalam rekening tabungan.
7.Mau bekerja dan berniat untuk membangun daerah yg membutuhkan
8.Bukan perokok aktif
Penerima beasiswa berhak:
1.
Menerima dana beasiswa sesuai jadwal disbursement. Disbursement dana:
-Living cost Rp. 9.000.000,- per semester dibayarkan kepada mahasiswa setiap tanggal 10 pada awal semester melalui Koordinator Kemahasiswaan dan Alumni FKUI ( setelah menyelesaikan pertanggungjawaban pengeluarannya sebelum tgl 10 awal semester tersebut)
-
Uang buku Rp. 6.000.000,- per tahun dibayarkan kepada mahasiswa setiap tanggal 1 pada awal tahun akademik melalui Koordinator Kemahasiswaan dan Alumni FKUI (mahasiswa wajib menyerahkan bukti penggunaan pembelian bukunya)
-Dana survey daerah Rp. 5.000.000,- per kunjungan per tahun (untuk tahun 2, 3 dan 4) dibayarkan pada tanggal 1 di awal semester genap setelah mahasiswa menyerahkan rincian tertulis rencana survey.
2.Didampingi dan dipantau oleh PA
3.Mendapatkan “Kakak Angkat”, yaitu mahasiswa senior yang dapat membantu mengatasi kesulitan akademik maupun nonakademik.
4.Sisa uang beasiswa menjadi milik mahasiswa penerima
5.Mendapatkan konseling apabila membutuhkan.
6.Atas dugaan penerima beasiswa tidak dapat memenuhi kewajibannya, berhak memberi penjelasan untuk mendapat pertimbangan.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Bagian Kemahasiswaan FK UI 
Sabtu, 23 April 2011

Hari itu pagi buta  …
“Selamat, Bu! Anaknya laki-laki!” Bayi itu diletakkan di dada sang ibu untuk menerima ASI pertamanya.
“Yah, kok laki-laki…”
“Loh, Bu,ibu ga senang anak ibu laki-laki?” Kataku bingung.
“Enggak. Saya maunya anak saya perempuan…” jawabnya, lugas. Aku terbengong2 mendengar jawaban si Ibu. Entah si ibu ini senang bercanda atau memmang serius, tapi aku selalu mengira seorang ibu tidak akan pernah kecewa dengan jenis kelamin anaknya. Kalau alasannya suaminya, aku sempat mengira mayoritas seorang pria menginginkan anaknya laki-laki. Jadi?
“Ini anak ibu yang keberapa?” (Bukan aku yang menganamnesisnya sehingga aku tidak tahu riwayat gravida, partus, dan abortusnya)
“Ini anak kedua, yang pertama laki-laki juga. Jadi saya inginnya sekarang perempuan… Biar sepasang, gitu…”
Oooo…
“Bu, jangan berkata begitu, anak ibu kan lucu… laki-laki atau perempuan tetap anugerah Allah…”
“Saya tetap mau anak saya perempuan…”
Duh, terserah ibu, deh…
Setelah aku membantu kelahiran plasentanya, dokter yang lain mengerjakan penjahitan pada bagian yang luka.
“Dokter, tetap di sini, ya. Saya takut sendirian di sini.” Katanya sambil memegang tanganku dengan erat. Well, seharusnya aku sudah beralih ke pasien lain untuk mengerjakan tugas lainnya, berhubung itu adalah IGD yang sibuk… Tapi, tak apalah, aku bersama pasien itu dulu… “Iya, Bu, tenang saja, saya tetap di sini.”
Penjahitan dilakukan dengan anestesi local. Memang sakit tidak terasa lagi, namun sering tetap terasa juga saat jarum-jarum itu menusuk jaringan sehingga seringkali Sang Ibu juga mengeluh atau berteriak kecil karena kurang nyaman dan memegang tanganku lebih kencang. Uniknya, setiap kali Sang ibu mengerang kecil, bayi yang ada di dadanya ikut menangis! Dan pada saat ibunya berhenti, sang makhluk mungil juga berhenti menangis.
“Dia merasakan yang ibu rasakan… Saat Ibu mengerang, dia ikut menangis…yang sabar, ya, Bu…”
“Iya..” Katanya sambil tersenyum.
Tapi tak lama dia mengulang lagi perkataannya… “Huh…kenapa anakku laki-laki…?”
Aku tertegun mendengarnya… dan seketika, setelah sang ibu mengatakannya, si bayi pun… menangis lagi…
“Wah, bu, setelah ibu ngomong begitu, anak ibu jadi nangis, tuh… jangan ngomong begitu lagi, dong, Bu…kasihan anaknya…”
“Iya, sih… tapi, saya inginnya anak saya perempuan…”
Rasanya tak tega melihat anak itu menangis seakan sedih karena tidak adanya penerimaan ibunya terhadap jenis kelaminnya…Tapi aku memilih untuk diam saja dan tetap tersenyum pada sang ibu, dan member dukungan padanya untuk menerima kelahiran anaknya.
Aku terpaksa meninggalkannya ke ruangan lain untuk menolong kelahiran ibu lainnya. Di ruangan yang berbeda itu, lahirlah seorang anak perempuan yang manis dengan perjuangan yang sangat berat dari seorang ibu muda. Sesuai prosedur, aku harus mencuci sarung tangan yang kugunakan ke larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi. Di ruangan itu aku tak menemukannya. Lalu aku mencari ember larutan tersebut yang kutemukan di ruangan ibu yang pertama.
“Permisi, Bu, saya mau cuci sarung tangan di sini.” Sapaku pada sang ibu.
“Oh, iya, Dok… baru ada yang melahirkan lagi, ya?”
“Iya, Bu…”
“Perempuan atau laki-laki, Dok, anaknya?”
“Perempuan, Bu…”
“Wah, senang sekali ibunya pastinya… Dapat anak perempuan…!”
“Masih aja nih, si ibu…”
“iya, Dok, saya ingin anak perempuan…”
Duuh…
Entah kenapa aku terus berempati pada perasaan si bayi. Kasihan dia, si ibu seperti tidak mengharapkannya. Dan entah kenapa pula aku sulit sekali berempati pada si ibu. Hanya karena anaknya sudah ada yang laki-laki, masa dia tidak mau menerima anaknya laki-2? Oke, gapapa, tapi tidak perlu disebut berulang-ulang begitu, kan?
Kenapa ya, si ibu ingiiin sekali anak perempuan? Selain supaya sepasang dengan anak pertamanya yang laki-laki, mungkin dia ingin ada yang bisa menemani dan membantunya di rumah sebagai sesame perempuan. Mungkin ada tuntutan di keluarganya supaya dia punya anak perempuan (walau kukira mayoritas penekanan ini adalah adanya anak lelaki)? Mungkin dia menganut paham matrilineal yang berprinsip garis keturunan dari pihak ibu (hey, aku orang padang tapi ga segitunya…walau memang ternyata saudaraku perempuan semua sih… :9)? Atau mungkin, di balik sikap senyumnya,si ibu sedang mengalami baby blues yang merupakan semacam bentuk depresi ibu pasca persalinan karena berubah drastisnya keadaan hormonal tubuh…? Atau..
Kalau dicari-cari kemungkinannya, masih banyak sekali… tapi sayang, aku tak bisa memastikannya berhubung aku sedang kerja di IGD yang sibuk… Sayang sekali… Yah, bersabarlah, Bu… Itu pasti yang terbaik untuk Ibu. Semoga Ibu bisa menerima kondisi anak ibu, karena lihatlah, setiap Ibu mengeluhkan itu, sang bayi selalu tiba-tiba menangis, entah, padahal dia belum bisa memahamimu bicara…

About Me

Pengikut

Search

Memuat...
Diberdayakan oleh Blogger.